White collar crime : Kejahatan Kelas Tinggi


Istilah “white collar crime” sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “kejahatan kerah putih” ataupun “kejahatan berdasi”. White collar crime ini pertama kali dikemukakan dan dikembangkan oleh seorang kriminolog Amerika Serikat yang bernama Edwin Hardin Sutherland (1883-1950) di awal dekade 1940-an, yang dikemukakan dalam suatu pidato dari Sutherland yang selalu dikenang dan saat itulah pertama kali muncul konsep white collar crime.

Biasanya, suatu white collar crime dilakukan untuk salah satu dari 2 (dua) motif berikut ini :

  1. Motif Mencari Keuntungan Finansial.
  2. Motif Mendapat Jabatan Pemerintahan.

Dari data yang ada tentang white collar crime dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Kumulasi dari kejahatan yang tergolong kedalam kejahatn white collar crome jauh lebih besar jumlah uang yang terlibat daripada kejahatan biasa.
  2. Hukuman penjara kepada penjahat biasa jauh lebih sering ketimbang hukuman penjara terhadap pelaku white collar crime yang lain.
  3. Hukuman penjara bagi penjahat konvensional jauh lebih berat ketimbang hukuman penjara bagi pelaku kejahatan kerah putih.

Pengertian White Collar Crime

Yang dimaksud dengan istilah white collar crime adalah suatu perbuatan (atau tidak berbuat) dala sekelompok kejahatan yang spesifik yang bertentangan dengan hukum pidana yang dilakukan oleh pihak professional, baik oleh individu, organisasi, atau sindikat kejahatan, ataupun dilakukan oleh badan hukum.

Dari pengertian white collar crime tersebut diatas dapat ditarik unsur-unsur yuridis dari white collar crime, yaitu sebagai berikut:

  1. Adanya perbuatan (atau tidak berbuat) yang bertentangan dengan hukum, baik hukum pidana dan atau hukum perdata dan atau hukum tata usaha negara.
  2. Sekelompok kejahatan yang spesifik.
  3. Pelakunya adalah individu, organisasi kejahatan, atau badan hokum.
  4. Pelakunya sering kali (tetapi tidak selamanya) merupakan terhormat/kelas tinggi dalam masyarakat, atau mereka yang berpendidikan tinggi.
  5. Tujuan dari perbuatan tersebut adalah unutk melindungi kepentingan bisnis atau kepentingan pribadi, atau untuk mendapatkan uang, harta benda, maupun jasa, ataupun untuk mendapatkan kedudukan dan jabatan tertentu.
  6. Perbuatan tersebut dilakukan bukan dengan cara-cara kasar, seperti mengancam, merusak, atau memaksa secara fisik, melainkan dilakukan dengan cara-cara halus dan canggih.
  7. Perbuatan tersebut biasanya (tetapi tidak selamanya) dilakukan ketika pelakunya sedang menjalankan tugas (orang dalam) atau ketika menjalankan profesinya.

Pengelompokan White Collar Crime

Pengelompokan terhadap white collar crime adalah sebagai berikut:

  1. White collar crime yang bersifat individual, berskala kecil dengan modus operandi sederhana.
  2. White collar crime yang bersifat individual, berskala besar dengan modus operandi kompleks.
  3. White collar crime yang melibatkan korporasi.
  4. White collar crime di sektor publik.

Respon yang diberikan para pelaku white collar crime apabila dilakukan fait acompli terhadap tindakan yang telah dilakukannya muncul dalam 4 (empat) tipe sebagai berikut:

  1. Tipe Pemaafan.
  2. Tipe Justifikasi.
  3. Tipe Konsesi.
  4. Tipe Refusal.

posted by ; Dharmajaya Indonesia Communcation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: