Hambatan dalam pelatihan

Pelatihan bukan suatu keterampilan yang mudah, terdapat sejumlah factor yang menimbulkan ancaman baik bagi atasan maupun bawahan. Factor utama yang dapat membangun ataupu merusak pelatihan terletak pada kesesuaian kepribadian atau sebaliknya pertentangan kepribadian antara pihak atasan dan bawahan.

Peran kurang jelas

Sekalipun peran dapat dilihat sebagai sarana manajemen yang penting, sering kali timbul ketidakjelasan mengenai apa sesungguhnya yang dilibatkan baik dari segi keterampilan maupun kegiatan. Di samping itu, kurangnya pemahaman dapat menimbulkan pertanyan siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab dalam pelatihan. Atasan mungkin saja tidak memiliki pengertian mendalam tentang apa yang harus dilakukannya dalam pelatihan, kapan dan bagaimana melakukannya. Selain itu, terdapat pula ketidakpastian mengenai seberapa banyak penyuluhan, pengarahan, dan dukungan sosio-emosional uang dibutuhkan.

Gaya manajemen kurang sesuai

Gaya manajemen merupakan pola perilaku konsisten yang digunakan atasan saat bekerja bersama dan melalui orang lain. Atasan mengembangkan kebiasaan bertindak yang untuk selanjutnya akan dapat diduga oleh mereka yang bekerja bersamanya. Tak mustahil mereka khawatir bila kebiasaan tersebut harus diubah ataupun diganti, suatu situasi yang menimbulkan perasaan kurang aman bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Kepercayaan terhadap bawahan sering kali dipengaruhi oleh pandangan atasan mengenai tabiat atau sifat manusia.

Keterampilan komunikasi tidak memadai

Keterampilan komunikasi tulis dan tulisan sangat pentting dalam situasi pelatihan. Keberhasilan dan kegagalan atasan sebagai pelatih bergantung pada kemampuan mereka dalam menyampaikan pikiran, perasaan dan kebutuhan. Atasan seharusnya juga dapat menerima upaya para bawahan untuk melakukan hal serupa. Atasan yang cenderung bertele-tele, di samping memberikan instruksi dan penjelasan ala kadarnya, akan menimbulkan suasana yang membingungkan dan menghambat komunikasi.

Kurangnya motivasi

Bila seorang atasan ditanya apakah mereka berhasil sebagai pelatih, jawaban mereka pada umumnya adalah ‘ya, saya rasa demikian’. Kesulitan ini timbul karena saran pembangkit motivasi yang dipilih tidak sesuai dengan kebutuhan perorangan yang dimaksudkan pada saat yang sama. Sebagai pelatih, atasan mempunyai tambahan menciptakan lingkungan bermotivasi bagi bawahan. Namun, dengan organisasi yang kian diperamping dan jumlah pekerja kian menyusutataupun diintegrasikan, kesulitan pun semakin membengkak.

Tekanan dalam pekerjaan

Sejumlah alasan diungkapkan oleh atasan mengapa mereka tidak termotivasi dan ragu untuk menjadi pelatih. Satu diantaranya karena mereka menganggap organisasi menitikberatkan pada sikap ‘lakukan sendiri tugasmu’ untuk itulah kamu dibayar. Yang lain berpikir bahwa pelatihan akan menyita terlalu banyak waktu, dan bahwa sebuah proyek terlalu rumit untuk dijelaskan kepada orang lain yang tidak memiliki pengalaman dan keahlian sebagai manajer.

Kesulitan lain yang timbul adalah kecemasan menghadapi kegagalan, seandainya bawahan tidak mampu mengerjakan tugas dengan baik, atau sebaliknya kekhawatiran bila bawahan akan terlihat lebih pandai dari dirinya.

Pelatihan dilihat dari perspektif atasan

Manajemen dapat didefinisikan sebagai proses ‘bekerja dengan dan melalui perorangan, kelompok, serta sumber lain untuk mencapai sasaran organisasi’. Keberhasilan departemen manapun dalam suatu organisasi bergantung pada pengembangan dan kinerja dari tenaga karyawannya, bukan semata-mata pada pribadi atasan. Bila setiap anggota staff diberi kekuasaan untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab, peran manajer akan lebih banyak memberikan tuntutan. Atasan harus mengubah manajemen dengan pengawasan menjadi manajemen dengan tanggung jawab  baik dari dirinya sendiri maupun pihak lain dan selanjutnya menerapkan manajemen dengan cara menjadikan dirinya fasilitator di lingkungan kerja yang bersuasana belajar.

Atasan yang berniat mencapai tujuan seperti ini akan melihat proses pelatihan sebagai sarana vital untuk menghadapi tantangan dan pilihan yang akan dihadapi dalam Susana baru, dan memastikan bahwa bawahannya telah siap dan bersedia memikul tanggung jawab serta otoritas menyangkut tugas barunya, bila yang bersangkutan diminta melakukannya.

Pelatihan dilihat dari perspektif bawahan

Sejak beberapa waktu terahir, banyak tugas yang harus dilakukan dengan dukungan kelompok karyawan berubah secara mencolok. Pada umumnya orang jauh lebih terampil dan memiliki pendidikan yang lebih baik dibanding masa-masa sebelumnya. Orang lebih tertarik pada kualitas dan nilai kerja disbanding para rekan kerja masa lalu. Namun, bila sebuah departemen akan menjalani proses perubahan, sebagian besar bawahan akan bergantian mengalami keyakinan dan keraguan, yang tentunya akan menimbulkan pengaruh sangat jelas pada motivasi dan moral.

posted by : Dharmajaya Indonesia Communiacation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: