Komunikasi Defensif

Cara lain dalam komunikasi defensif termasuk berbicara dengan jelas, mempertahankan sikap tubuh penuh perhatian, menunjukkan kejujuran dan menepati waktu, mendengarkan secara aktif, menggunakan kata-kata sendiri untuk lebih menjelaskan, dan memberikan perhatian. Dalam mengembangkan kemampuan berekspresi dan mendengarkan, semua prinsip tersebut bagi seorang atasan sebagai pelatih. Namun, suasana saat berlangsungnya komunikasi jauh lebih penting. Iklim yang mendukung dapat meningkatkan pemahaman penyelesaian masalah. Sebaliknya, suasana defensif akan menimbulkan hambatan.

Cirri-ciri hasil komunikasi yang baik adalah :

  • · Empati atau saling menangkap perasaan yang lain sebagai contoh menunjukkan rasa hormat/ menghargai pikiran atas pendapat orang lain.
  • · Spontanitas yakni sikap terbuka, tidak malu-malu, responsive, serta merasa bebas untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan.
  • · Penyelesaian masalah yakni kemauan untuk menggali perbedaan pendapat dan perasaan, saling berbagi persepsi, toleransi terhadap pandangan yang lain dan mengatasi konflik yang dapat memberikan kepuasan kedua belah pihak.
  • · Sinergi yakni hasil perpaduan elemen dari posisi saling berlawanan pada penyelesaian masalah dapat memuaskan kebutuhan kedua belah pihak.

Kita berkomunikasi dengan orang lain dalam dua tahap, denotative dan metakomunikatif. Yang pertama berkaitan dengan kata-kata yang kita ucapkan, dengan kata lain makna verbal langsung dari pesan yang disampaikan, sementara yang kedua berkaitan dengan cara bagaimana kita mengkomunikasikan komunikasi tersebut. Iklim komunikasi terbuka sangat penting bila masing-masing pihak ingin mencapai pemahaman yang lebih baik. Atasan dan bawahan dapat menciptakan iklim seperti ini bila masing-masing pihak:

ü Dapat menempatkan diri di tempat orang lain, masing-masing pihak juga harus mempunyai alasan ataupun maksud untuk mendengarkan, serta mengolah kembali pemahaman dari makna yang dimaksudkan untuk memeriksa kembali akurasi pendengaran dan pemahaman.

ü Mendengarkan pesan secara utuh, mencari makna, konsistensi maupun ketidakjelasan pesan verbal dan non verbal yang diterima, mendengarkan gagasan, perasaan dan maksud, sekaligus fakta yang sering kali sangat tidak menyenangkan untuk didengar.

ü Menunda penilaian, mendengarkan tanpa mengambil kesimpulan terlalu dini.

ü Melawan penyimpangan/gangguan, seperti suara, pemandangan, dan lain sebagainya.

ü Menunggu sebelum memberikan tanggapan, respons yang terlalu cepat akan mengurangi keefektifan ‘mendengarkan’ dan tidak mmberikan waktu untuk mencernakan informasi.

ü Membahasakan, maksud dan perasaan apa yang dikatakan bukan dengan maksud memuaskan hati pihak lain.

ü Mencari tema penting, dari apa yang dikatakan, yaitu dengan cara mendengarkan makna sebenarnya dalam kata-kata yang diucapkan.

ü Menggunakan jeda waktu, di antara kecepatan bicara dan kecepatan berpikir untuk merefleksikan maksud dan maknanya, dan memberikan waktu untuk memproses informasi.

ü Siap menanggapi, gagasan, saran, dan komentar dengan cara yang tidak menuduh, bukan pula memberikan nasihat atau membuat penilaian.

Posted By  : Dharmajaya IndonesiaCommnucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: