Ketegangan kerja

Hilangnya produktivitas dalam skala seperti diungkapkan oleh Yankelovich merupakan factor yang paling dikhawatirkan oleh atasan. Padahal ini hanyalah sebagian dari masalah yang ada. Menurut penelitian paling mutakhir, bila dinilai dengan uang, hilangnya produksi kerja yang diakibatkan ketegangan atau stres menghabiskan sekitar 20 juta poundsterling setiap harinya (Gregory, 1994). Stress timbul bila seseorang menghadapi lebih banyak tantang dari yang bisa mereka atasi. Istilah stress sebenarnya mencakup dua hal, yaitu kondisi dan penyebabnya. Perhatian terfokus pada momen terburuk dan kelemahan yang dialami. Dalam suasana bisnis dunia yang keras dan penuh tuntutan, terjadi peningkatan jumlah korban yang diakibatkan oleh ketegangan di tempat kerja.

Handy (1988) menunjukkan bahwa batasan-batasan tentang stress berbeda-beda, tergantung pada cara mereka memadukan factor individual dan lingkungannya, namun semuanya memusatkan pada individu yang mengalami ketegangan.

Contoh yang diberikan oleh Karasek (1979) merupakan hasil penelitian empiris di tempat kerja. Ketegangan psikologis diakibatkan oleh upaya menghadapi tuntutan situasi kerja serta pengawasan terhadap pelaku kerja dalam menghadapi tuntutan seperti itu. Ini menunjukkan adanya hubungan antara subjek yang mengalami stress dan kondisi social yang menyebabkan timbulnya stress. Pekerjaan denga tuntutan tinggi namun dengan pengawasan rendah. Konsep pengawasan atau control dan tanggungjawab sangat penting untuk mengatasi stress dan mengembangkan kesejahteraan.

Penelitian menunjukkan, semerntara tanggung jawab factor penting dalam stress, control merupakan factor penyeimbang. Cooper et al (1988) mengidentifikasikan dan menempatkan stress di lingkungan kerja dalam lima kategori. Berikut ini factor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaan: suasana atau bunyi-bunyian, tiadanya privasi, giliran kerja dan kejenuhan; peran individu dalam organisasi (misalnya bila diberikan tugas yang tidak sesuai keinginan atau karena tidak cukupnya informasi untuk melaksanakan tugas tersebut); hubungan social dan tuntutan antarindividu; prospek promosi dan peningkatan; struktur organisasi dan suasana atau iklim lingkungan. Termasuk dalam perwujudan stress adalah kekecewaan terhadap pekerjaan, kesehatan mental, penyakit jantung, kecelakaan, masalah alcohol, social dan rumah tangga. Selain dapat mempertajam perasaan muda tersinggung dan mempersulit prioritas penugasan, spesifikasi kegiatan kerja yang kurang jelas dapat juga menimbulkan kesulitan dalam mengalokasikan jumlah waktu yang tepat untuk melaksanakan setiap tugas.

Tentu saja konsekuensi stress tidak selalu negative. Hal itu dapat menimbulkan tantangan dan semangat kreatif serta pertimbangan efektif, sejauh tidak berlebihan. Stress kecil akan menjaga otot mental kita bekerja dan siap bereaksi, sedangkan adrenalin sangat bermanfaat baik bagi kita ataupun olahragawan. Namun, jumlah stress di atas rata-rata akan mempengaruhi kinerja. Lalu bagaimana pelatihan yang baik  membantu mengurangi stress? Lima hal penting berikut ini akan mengurangi stress yang dirasakan baik oleh atasan maupun bawahan :

  • · Perencanaan hasil-bukan metode-secara rinci
  • · Tanggung jawab yang diberikan kepada bawahan, sementara atasan menghindari campur tangan;
  • · Atasan selalu hadir bila diperlukan
  • · Masukan positif dari atasan
  • · Pemahaman bahwa seseorang dapat menarik pelajaran dari kegagalan yang dilakukannya.

Tuntutan terhadap atasan sebagai pelatih

Tentu saja ketegangan akan timbul pada saat atasan mulai melakukan pelatihan. Aspek terbesar dari hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan memberikan informasi dalam perusahaan – informasi sering dilihat sebagai suatu bentuk kekuasaan. Menurut McNeil (1993), peran atasan tidak perlu berlebihan, tetapi harus disesuaikan. Atasan harus belajar membawakan pera sebagai pelatih, yaitu dengan cara membagi pengalaman mereka serta memastikan bahwa kelompoknya dapat bekerja mencapai sasaran bersama.

Jika demikian, apa yang dituntut dari seorang manajer dalam pelatihan? Pelatihan merupakan tugas meminta bantuan, semakin baik kondisi mental dan fisik seseorang manajer semakin baik pula kemampuan mereka untuk membantu yang lain. Pelatihan berada jauh diatas fungsi manajemen biasa dalam memperjelas kepemimpinan, pertanggungjawaban, kewajiban , dan kinerja standar. Pelatihan juga menuntut manajer untuk menunjukkan perhatian yang sunggu-sungguh, bukan saja pada hasil, melainkan juga pada manusianya.

Seorang manajer pelatihan yang sukses harus pula mampu:

  • · Melepaskan tanggung jawab pribadi dan tidak cepat meragukan pertanyaan yang diajukan.
  • · Mempertahankan keterbukaan sikap, bawahan mungkin menghendaki sikap situasi seperti ini akan berlangsung dalam jangka panjang.
  • · Bersedia mengambil jarak begitu tugas telah diserahkan, mampumelihat kesalahan yang dilakukan oleh bawahan sebagai cara pembelajaran, mendiskusikannya dengan cara yang positif dengan orientasi pembelajaran.

Besar kemungkinan beberapa manajer berkeberatan untuk dapat menerima hal ini. Mereka mungkin akan bertanya mengapa teknik manajemen yang menurutnya telah berjalan dengan baik harus diubah lagi. Jawabannya terletak pada bagaimana membuat dan mempertahankan suasana persaingan. Dalam organisasi dimana kekuasaan mengambil keputusan didelegasikan kepada bawahan, reaksi yang ditunjukkan dalam memenuhi keinginan klien pun terlihat jauh lebih cepat. Manajer sering kali harus menerima bahwa sebaiknya lebih membuka organisasi dan departemen mereka, serta tidak merasa khawatir untuk menyerahkan sebagian dari kekuasaan mereka. Pada umumnya manajer Inggris, Prancis, dan Jerman menolak perubahan, dan merasa kesal terhadap pemanbahan ataupun pengurangan kekuasaan manajerial.

Bila riwayat belajar atasan berbeda jauh dari bawahan, proses belajar akan lebih menyulitkan dan kurang memberikan kenyamanan, bahkan tidak mustahil tak akan dapat dilaksanakan. Tuntutan terakhir adalah waktu dari pihak atasan, yang harus dilihat dari sua sisi,. Sisi yang pertama adalah waktu pribadiyang menyangkut perencanaan sesi pelatihan, pelaksanaan keterampilan yang dimaksud, penyediaan ruang untuk peninjauan kembali, serta pengamatan terhadap kemajuan. Yang kedua, atasan perlu menyadari bahwa bawahan mungkin membutuhkan waktu lebih lama dalam melakukan tugas yang diserahkan kepadanya. Pentingnya pelatihan akan semakin terasa dalam menghadapi perubahan teknologi yang sangat cepat, resesi dan redundasi. Pada saat seperti itulah perusahaan dan organisasi akan semakin diperamping, namun sementara itu diharapkan tetap mampu memenuhi, bahkan melampaui keinginan para klien.hasil akhir pelatihan yang baik akan menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih besar dalam membantu organisasi meraih sasarannya, disamping dapat meningkatkan iklim professional yang menyenangkan, sekaligus menciptakan lingkungan yang berorientasi pada pencapaian atau prestasi.

Posted By : Dharmajaya Indonesia Communication

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: